Saya Tidak Mau Menjadi Anggota DPD RI Saya Tidak Mau Menjadi Anggota DPD RI
saya tidak mau menjadi anggota DPD RI 300x285 Saya Tidak Mau Menjadi Anggota DPD RI

Pemilik gambar tickledbylife.com

 

Akhirnya saya bisa lagi membelai blog ini setelah hampir seminggu blog ini ditelantarkan karena berbagai urusan penting/pekerjaan yang tidak bisa dihindari (Sok sibuk atau malas?). Ok, kembali ke laptop. Saya tidak mau menjadi anggota DPD RI, sebuah opini yang bertolak belakang dengan artikel dan tweep yang mengotori dunia maya yang berandai-andai untuk menjadi anggota DPD RI.

Jika yang lain berandai-andai ingin menjadi anggota DPD RI maka sang blogger justru berpendapat sebaliknya “Saya Tidak Mau Menjadi Anggota DPD RI“.

Berikut sebagian pendapat dari sang blogger kenapa dia tidak mau menjadi anggota DPD RI

Dari sekian banyak tulisan yang saya baca tentang opini mereka  ” Seandainya Saya Menjadi Anggota DPD RI “, hampir semua dengan jelas dan tegas memberikan jaminan dan komitmen untuk menjadi anggota yang jujur, bertanggungjawab, tidak korupsi, membela kaum lemah dan seterusnya yang semuanya (menurut para penulis) adalah untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

Komitmen dan janji yang selalu sama dan disampai-sampaikan oleh calon anggota DPRD Kab/Kota, DPRD Propinsi dan DPR RI bahkan calon Bupati, calon Walikota, calon Gubernur bahkan calon Presiden ketika musim kampanye. Menurut saya semua yang diurai adalah standar dan normatif. Tidak ada yang menyatakan bahwa, saya akan menolak ketika ada usulan pembangunan gedung DPD RI yang nilainya selangit atau, saya akan membuat pos pengaduan masyarakat yang menjadi korban ketidakadilan dari pihak manapun, melaporkan harta kekayaan tanpa diminta, atau memperjuangkan agar DPD RI mempunyai fungsi yang paling tidak hampir sama dengan peran dan fungsi DPR RI, bukan sekedar lembaga pelengkap karena amanat undang-undang.  Karena buat apa ada DPD RI yang mendapat mandat konstitusional sebagai pembela rakyat dan daerah tetapi mandul dalam memperjuangkan hak-hak rakyat banyak? Tidak ada kewenangan lebih dalam upaya untuk lebih menyentuh akar permasalahan di akar rumput?

Artikel tersebut seakan memberikan gambaran bagi kita yang sedang berkhayal Seandainya saya menjadi anggota DPD RI. Beberapa hal yang bisa kita lihat dan pelajari dari apa yang disampaikan oleh bro Saul sebagai penulis adalah:

  • Janji-janji yang kita sampaikan tak bedah dengan apa yang disampaikan saat kampanye pemilihan wakil rakyat dan kita justru melupakan hal-hal yang justru menjadi permasalahan wakil rakyat sekarang ini yang mendapat sindiran bahkan kecaman dari masyarakat seperti menolak fasilitas mewah seperti pembangunan kantor mewah, menolak jalan-jalan keluar negeri berbentuk studi banding yang tidak perlu, bersedia mundur jika kedapatan melakukan pelanggaran moral seperti hubungan gelap dan porno aksi apalagi jika terkait skandal korupsi.
  • Banyak dari kita yang berandai-andai menjadi anggota DPD justru tidak mengetahui tugas pokok dan fungsi dari anggota DPD. Ada yang mengatakan ingin membangun sekolah, pusat kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas, memberikan pendidikan secara gratis dan berbagai janji lainnya padahal sebenarnya tugas pokok, fungsi dan wewenang dewan perwakilan daerah Republik Indonesia (DPD RI) tidak sampai disitu. Fungsi tugas dan wewenang DPD hanya sebatas mengawasi, mengusulkan dan memberikan pertimbangan kepada anggota DPR. Jadi jika kita menyampaikan janji-janji tersebut, bukankan kita justru hanya melakukan pembohongan kepada masyarakat karena kita tidak akan perah bisa melakukan apa yang kita janjikan?
  • Tidak ada dari kita yang bercita-cita seandainya saya menjadi anggota dpd maka saya akan merangkul teman-teman anggota DPD yang lain dan mengusulkan sebuah perubahan sistem dimana dewan perwakilan daerah mempunyai kewenangan yang sama dengan dewan perwakilan rakyat agar supaya DPD tidak kelihatan seperti wakil rakyat kelas dua dan hanya berada di bawah bayang-bayang dari DPR sehingga nanti fungsi DPD bukan hanya sekedar memberikan usulandan pertmbangan kepada DPR. Padahal seharusnya disaat sekarang ini DPD sebaiknya yang menjadi ujung tombak penyambung suara rakyat karena DPD merupakan pilihan rakyat dan lansung mewakili rakyat tanpa embel-embel partai politik. Para wakil rakyat kita yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat RI sekarang ini lebih mengutamakan kepentingan partai dibanding dengan kepentingan rakyat.

Jadi, apakah anda masih berandai-andai untuk menjadi atau anggota DPD dengan segala macam keterbatasan tugas, fungsi dan wewenang ataukah anda akan seperti bro Saul yang mengatakan bahwa saya tidak mau menjadi anggota DPD RI?

bro eser

Hanyalah seorang yang ingin berbagi cerita dan berbagi berita lewat sebuah catatan ringan. I'm note the best, but i will do the best. Bro eser merupakan anggota Kawanua Blogger sebuah komunitas blogger yang berasal dari Sulawesi Utara. Berteman dengan saya di FacebookGoogle+ dan Twitter

  • eko susilo

    11/12/2011 #1 Author

    Kayaknya dapat pertamax nih :D
    Sya coba ikut meramaikan kontes tp dh 2 hr posting ga bs nongol di goel goel. Benar2 gak biasa, padahal biasanya hnya buth wkt bebrapa menit sj. Kira2 apa sebab ya bro eser?

    Reply

    • bro eser

      11/12/2011 #2 Author

      Masa sih udah dua hari ngga bisa nongol di google??? Coba di ping link artikelnya bro dan sebarkan lewat situs jejaring sosial… Btw artikelnya di blog mana bro?

      Reply

  • Anawia

    11/12/2011 #3 Author

    Ada hal yang tidak masuk akal di pikiran saya as eser soal gaji anggota dewan yaitu tentang tunjangan kehormatan itu kan dia. minta di hormat tapi minta di gaji. Terus ada tunjangan dana menyerap aspirasi rakyat.artinya kan
    kita menyampaikan aspirasi dengan datang ke rumah nya maka ia dapat uang dari itu. Masalah nya kalau kita datang tidak jarang kita gak di temui. :hammer

    Reply

    • bro eser

      11/12/2011 #4 Author

      Kalau soal tunjangan saya ngga terlalu tahu dengan pasti bro, tapi memang kalau di dengar-dengar hampir semua aktifitas mereka mendapatkan tunjangan…. Yang saya bingung dari mereka katanya setiap mereka harus memiliki tenaga ahli,.. Jadi apa gunanya kita memilih mereka jika mereka selalu meminta tenaga ahli? Kalau ngga mampu ya ngga usah mencalonkan diri….

      Reply

  • ibnu ismadi

    12/12/2011 #5 Author

    janji adalah hutang brow.. bagaimana rasa na jika kita ngga bisa melunasi semua hutang2 kita?? pasti ngga enak kan?? begitulah dengan janji2 yg telah terucapkan..

    Reply

    • bro eser

      12/12/2011 #6 Author

      Makanya sangat disayangkanbagi mereka yang berjanji ini itu padahal tupoksi tidak seperti itu….

      Reply

  • ajurna

    12/12/2011 #7 Author

    ya begitulah mas bro, kayaknya kalau sudah jadi orang lupa akan dulunya atau karena ingin mencari laba.

    Reply

  • andank

    06/01/2012 #8 Author

    saya pun tidak mau mas :D

    Reply

  • Obat herbal kanker payudara

    20/01/2012 #9 Author

    KEBANYAKAN MAKAN GAJI BUTA SAJA….

    Reply

  • akh terlalu bnyak gaji buta

    Reply

  • jhoni

    22/08/2012 #11 Author

    Janji janji tinggal janji, brantas korupsi hanya mimpi… :hammer

    Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3+2